InfoNusantara.id

Dari Daerah untuk Indonesia

Chef Arnold Sentil Perebutan Jatah MBG, Anggaran Rp240 Triliun Jadi Sorotan

Chef Arnold Poernomo mengkritik kepentingan bisnis dan pemborosan makanan dalam program MBG. Anggaran BGN 2027 sebesar Rp240,20 triliun turut menjadi sorotan.
Chef Arnold Poernomo menyoroti pengelolaan anggaran dan persoalan makanan terbuang dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

JAKARTA, INFONUSANTARA.ID – Besarnya anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memicu perdebatan.

Kali ini, Chef Arnold Poernomo melontarkan kritik mengenai kepentingan bisnis, pembagian anggaran, hingga makanan terbuang yang dinilainya masih menjadi persoalan dalam pelaksanaan program pemerintah.

Melalui unggahan di media sosial Threads, koki sekaligus juri MasterChef Indonesia itu mempertanyakan apakah perhatian para pihak yang terlibat dalam program MBG benar-benar tertuju pada peningkatan gizi masyarakat.

Arnold menyinggung besarnya anggaran sekitar Rp240 triliun yang menurutnya memunculkan beragam kepentingan, termasuk upaya memperoleh keuntungan dari pelaksanaan program.

“240T. Sebagian besar mikirin gimana dapetin jatahnya lebih besar,” tulis Arnold dalam unggahan yang dikutip Rabu (28/10/2026).

Ia kemudian menyindir pihak-pihak yang lebih mengutamakan efisiensi untuk memperbesar keuntungan dibandingkan memastikan kualitas makanan bagi penerima manfaat.

“Sebagian mikirin gimana lebih efisien supaya margin tebel,” lanjutnya.

Menurut Arnold, orientasi bisnis dalam penyediaan makanan tidak seharusnya menggeser tujuan utama MBG, yakni membantu memenuhi kebutuhan gizi anak-anak dan kelompok masyarakat yang menjadi sasaran program.

Ia mengingatkan bahwa masih ada pihak yang berupaya memperbaiki sistem penyelenggaraan dan meningkatkan kualitas gizi. Namun, persoalan makanan terbuang atau food waste tetap menjadi perhatian.

“Kebanyakan jadi waste,” ungkapnya.

Kritik Arnold bukan kali pertama disampaikan. Sebelumnya, ia juga menyoroti kesiapan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), kemampuan tenaga pengolah makanan, hingga pengawasan penggunaan bahan pangan.

Arnold mengaku pernah menemukan bahan makanan segar yang berakhir menjadi sampah saat meninjau pelaksanaan program di lapangan.

Meski demikian, pengalamannya tersebut belum dapat dijadikan ukuran jumlah pemborosan secara nasional tanpa data pemeriksaan yang menyeluruh.

Sebagai informasi, angka sekitar Rp240 triliun yang menjadi sorotan berkaitan dengan rencana alokasi Badan Gizi Nasional (BGN) tahun anggaran 2027.

Berdasarkan keterangan resmi BGN, alokasi tahun 2027 sebesar Rp240,20 triliun. Dari jumlah itu, sekitar Rp232,50 triliun diarahkan khusus untuk pelaksanaan MBG.

Angka tersebut berbeda dengan pagu MBG tahun 2026 yang setelah penyesuaian tercatat sebesar Rp218,77 triliun.

Kepala BGN Sudaryono sebelumnya menyatakan pemerintah berkomitmen meningkatkan kualitas layanan, keamanan pangan, pengawasan, dan ketepatan sasaran penerima manfaat.

Pemerintah juga menargetkan program MBG pada 2027 menjangkau sekitar 72,46 juta penerima manfaat.

Di tengah besarnya anggaran tersebut, kritik Arnold mengangkat pertanyaan mengenai efektivitas belanja negara, pengendalian biaya operasional, serta manfaat makanan yang benar-benar dikonsumsi penerima.

Transparansi data makanan terbuang, kualitas menu, dan penggunaan anggaran menjadi aspek penting untuk menilai keberhasilan program secara objektif.