Belanja Rokok Lampaui Padi-padian, BPS Catat Rp91.708 per Orang Sebulan
JAKARTA, INFONUSANTARA.ID – Pengeluaran masyarakat Indonesia untuk rokok masih menyita porsi cukup besar dalam anggaran konsumsi.
Di tengah kebutuhan pangan, pendidikan, dan kesehatan, belanja rokok bahkan tercatat melampaui rata-rata pengeluaran untuk padi-padian, termasuk beras.
Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata pengeluaran penduduk Indonesia untuk rokok dan tembakau mencapai Rp91.708 per kapita setiap bulan.
Angka tersebut setara dengan 5,84 persen dari keseluruhan pengeluaran konsumsi bulanan penduduk.
Sebagai perbandingan, pengeluaran rata-rata untuk kelompok padi-padian tercatat Rp89.278 per kapita per bulan. Artinya, belanja rokok dan tembakau secara nasional lebih tinggi Rp2.430 dibandingkan kelompok bahan pangan tersebut.
Kondisi ini memperlihatkan besarnya porsi konsumsi rokok dalam struktur pengeluaran masyarakat.
Data BPS juga menunjukkan adanya perbedaan pola belanja antara penduduk perkotaan dan perdesaan.
Di wilayah perkotaan, rata-rata pengeluaran rokok mencapai Rp88.750 per kapita per bulan atau 4,90 persen dari total pengeluaran.
Sementara itu, penduduk perdesaan mencatat pengeluaran lebih tinggi, yakni Rp96.053 per kapita per bulan, setara 7,92 persen dari keseluruhan konsumsi.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa beban pengeluaran untuk rokok relatif lebih besar dalam struktur konsumsi masyarakat perdesaan.
Meski demikian, angka BPS merupakan rata-rata seluruh penduduk, termasuk mereka yang tidak merokok. Karena itu, data tersebut tidak dapat diartikan sebagai jumlah uang yang pasti dikeluarkan setiap perokok.
Bagi rumah tangga berpendapatan terbatas, pengeluaran rutin untuk rokok berpotensi mempersempit ruang anggaran yang dapat dialokasikan bagi kebutuhan lainnya.
Terlebih, keluarga juga harus memenuhi kebutuhan makanan bergizi, tempat tinggal, transportasi, biaya sekolah, dan pelayanan kesehatan.
Dalam kondisi penghasilan yang tidak meningkat sebanding dengan biaya hidup, setiap pengeluaran perlu dipertimbangkan berdasarkan skala prioritas.
Namun, tingginya belanja rokok secara nasional tidak serta-merta membuktikan bahwa seluruh keluarga perokok mengurangi pengeluaran pendidikan atau pangan.
Penilaian mengenai dampak kebiasaan merokok terhadap kesejahteraan rumah tangga membutuhkan analisis lebih lanjut berdasarkan kelompok pendapatan dan karakteristik konsumsi.
Data Susenas tersebut menjadi gambaran penting bahwa persoalan pengeluaran rokok bukan hanya berkaitan dengan kebiasaan individu, melainkan juga menyangkut pengelolaan keuangan keluarga dan prioritas konsumsi masyarakat.
