InfoNusantara.id

Dari Daerah untuk Indonesia

Modal US$17,5 Juta, BPMA dan PGE Berburu Cadangan Migas Baru Aceh

BPMA dan PGE mulai mengebor sumur Rayeu D-1 di Aceh Utara dengan anggaran US$17,5 juta. Target produksi gas 11,4 MMSCFD dan kondensat 300 barel per hari.
Aktivitas persiapan pengeboran sumur eksplorasi Rayeu D-1 oleh PT Pema Global Energi (PGE) bersama BPMA di Desa Alue Serdang, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara. Proyek dengan anggaran US$17,5 juta ini menargetkan potensi produksi gas dan kondensat dari Blok B. FOTO: Dokumentasi BPMA/PGE.

ACEH UTARA, INFONUSANTARA.ID – Eksplorasi minyak dan gas bumi (migas) di Aceh kembali memasuki babak baru.

Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) bersama PT Pema Global Energi (PGE) memulai pengeboran sumur Rayeu D-1 di Desa Alue Serdang, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara, dengan anggaran yang disetujui mencapai US$17,5 juta.

Pengeboran yang dimulai Sabtu (31/10/2026) pukul 18.00 WIB itu menjadi upaya menguji potensi cadangan hidrokarbon baru di Wilayah Kerja B atau Blok B.

PGE membidik potensi produksi awal sebesar 300 barel kondensat dan 11,4 juta standar kaki kubik gas per hari. Namun, angka tersebut masih berupa target yang harus dibuktikan melalui hasil pengeboran dan pengujian sumur.

Sumur Rayeu D-1 dibor menggunakan rig BMA-16 berkapasitas 1.500 HP milik operator pengeboran PT Bina Mitra Artha. Kedalaman yang ditargetkan mencapai 6.953 kaki terukur berarah atau sekitar 2.119 meter.

Eksplorasi ini difokuskan pada lapisan batupasir LS-1 dan LS-2 di Formasi Lower Seurula, berdasarkan prospek yang sebelumnya diidentifikasi melalui survei seismik tiga dimensi.

Kepala BPMA, Mawardi Nur, menyebut pengeboran tersebut sebagai langkah strategis untuk membuka peluang penemuan cadangan migas baru sekaligus menjaga keberlanjutan produksi Blok B.

Mawardi juga mengingatkan agar seluruh kegiatan mengutamakan keselamatan pekerja, perlindungan lingkungan, dan kepatuhan terhadap ketentuan operasional.

Berdasarkan Authorization for Expenditure (AFE), anggaran pengeboran disetujui sebesar US$17,5 juta dengan estimasi 50 hari operasi rig dan keseluruhan pekerjaan berlangsung 74 hari, termasuk pengujian sumur.

Keberhasilan investasi eksplorasi ini kini bergantung pada hasil pengeboran. Jika potensi hidrokarbon terbukti dan layak dikembangkan secara komersial, Rayeu D-1 berpeluang memperkuat produksi migas Aceh sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi daerah.

Sebaliknya, target produksi tersebut belum dapat diperlakukan sebagai tambahan cadangan atau penerimaan daerah sebelum hasil pengujian dan evaluasi keekonomian tersedia.