Indonesia dan India Resmikan Koridor Teknologi Kreatif, Bidik Investasi Digital Nasional
JAKARTA, INFONUSANTARA.ID – Pemerintah Indonesia memperluas kerja sama ekonomi digital dengan India melalui peresmian Indonesia–India Creative-Tech Corridor di Jakarta.
Inisiatif tersebut diarahkan untuk mempercepat investasi teknologi, membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI), serta membuka pasar internasional bagi industri kreatif nasional.
Program yang didorong Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian ini menghubungkan potensi teknologi kedua negara dengan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) berbasis digital.
Melalui koridor tersebut, pemerintah berupaya menarik investasi pada sektor pusat data (data center), infrastruktur komputasi AI, pengembangan perusahaan rintisan (startup), serta komersialisasi produk dan kekayaan intelektual kreator Indonesia.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan ekonomi digital Asia, sekaligus membuka peluang kolaborasi antara pelaku industri, investor, perguruan tinggi, dan pengembang teknologi.
Kemenko Perekonomian sebelumnya mencatat nilai ekonomi digital Indonesia pada 2025 mendekati 100 miliar dolar AS. Nilai tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 180–340 miliar dolar AS pada 2030.
Potensi pasar tersebut didukung sekitar 235 juta pengguna internet serta ribuan perusahaan rintisan yang berkembang di berbagai sektor.
Salah satu kawasan yang memiliki keterkaitan dengan kerja sama Indonesia–India ialah KEK Singhasari di Jawa Timur. Kawasan ini sebelumnya menjalin kemitraan dengan Indian Institute of Management Bangalore untuk memperkuat pendidikan, inovasi, dan pengembangan talenta digital.
Kolaborasi kedua negara juga telah berkembang melalui Mumbai–Malang Creative Tech Corridor, yang menghubungkan potensi industri kreatif dengan penguasaan teknologi dan pengembangan sumber daya manusia.
Penguatan kerja sama diharapkan tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur, tetapi menghasilkan transfer pengetahuan, peluang kerja berketerampilan tinggi, serta peningkatan daya saing perusahaan teknologi domestik.
Di sisi lain, pengembangan pusat data dan infrastruktur AI membutuhkan dukungan pasokan listrik, konektivitas internet, keamanan siber, serta kepastian regulasi investasi.
Pemerintah juga menghadapi tantangan memastikan pelaku usaha lokal tidak sekadar menjadi pengguna teknologi asing, melainkan terlibat dalam riset, pengembangan, dan komersialisasi produk.
Keberhasilan koridor Indonesia–India nantinya perlu diukur melalui realisasi investasi, penciptaan lapangan kerja, penguatan talenta digital, dan kemampuan industri kreatif nasional menembus pasar global.
Dengan kerja sama tersebut, Indonesia berpeluang memperluas perannya dari pasar pengguna teknologi menjadi pusat pengembangan inovasi dan layanan digital di kawasan Asia.
