InfoNusantara.id

Dari Daerah untuk Indonesia

Ketahanan Energi RI Terancam Krisis Global dan Bencana, Investasi Butuh US$100 Miliar

Ilustrasi pembangkit listrik tenaga surya dan jaringan transmisi. IESR menilai penguatan infrastruktur kelistrikan serta investasi energi terbarukan menjadi kebutuhan penting untuk menghadapi ancaman bencana dan gejolak energi global.

JAKARTA, INFONUSANTARA.ID – Ketahanan energi Indonesia menghadapi tekanan serius akibat konflik geopolitik, perubahan iklim, dan meningkatnya risiko bencana alam. Kondisi tersebut mengancam stabilitas pasokan listrik sekaligus memperbesar kebutuhan investasi energi terbarukan nasional.

Direktur Program Transformasi Sistem Energi Institute for Essential Services Reform (IESR), Deon Arinaldo, mengatakan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil membuat Indonesia rentan menghadapi gejolak harga energi dunia.

Sementara itu, cuaca ekstrem dapat mengganggu operasional pembangkit listrik, jaringan transmisi, hingga distribusi bahan bakar.

Dalam lokakarya yang diselenggarakan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) bersama Korea Foundation, Deon mencontohkan banjir Aceh pada akhir 2025 yang menyebabkan gangguan listrik dan komunikasi.

Gangguan jaringan transmisi akibat hujan lebat dan angin kencang di Sumatera pada Mei 2026 juga menjadi gambaran kerentanan infrastruktur kelistrikan nasional.

Selain itu, fenomena El Niño berpotensi mengurangi debit air waduk yang dibutuhkan pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Penurunan permukaan air sungai bahkan dapat menghambat pengangkutan batu bara menuju pembangkit.

Menghadapi risiko tersebut, Deon menilai percepatan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt perlu didukung jaringan transmisi dan penyimpanan energi berbasis baterai.

Menurut perkiraannya, kebutuhan investasi pembangkit skala besar mendekati US$80 miliar. Nilainya berpotensi melampaui US$100 miliar jika infrastruktur transmisi dan baterai turut diperhitungkan.

Padahal, investasi energi terbarukan Indonesia saat ini disebut baru berkisar US$2–3 miliar per tahun.

Sementara itu, perwakilan Solutions for Our Climate, Gahee Han, menilai ketegangan Timur Tengah menunjukkan kerentanan negara yang bergantung pada impor energi.

Ia menekankan pentingnya pengembangan energi surya dan angin untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan bahan bakar lintas negara.

Kedua narasumber menilai percepatan transisi energi harus disertai kesiapan infrastruktur, investasi, dan penguatan keandalan sistem listrik nasional.