InfoNusantara.id

Dari Daerah untuk Indonesia

Perminas Kantongi Izin Tambang Tanah Jarang 7.300 Hektare di Mamuju, Cadangan Belum Pasti

Ilustrasi aktivitas pengeboran eksplorasi logam tanah jarang oleh Perminas di Mamuju, Sulawesi Barat.

JAKARTA, INFONUSANTARA.ID – PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) mulai mengeksplorasi potensi logam tanah jarang (LTJ) di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Perusahaan tersebut mengantongi Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi untuk wilayah konsesi seluas 7.300 hektare.

Direktur Teknologi dan Pengembangan Bisnis Perminas, La Ode Tarfin Jaya, mengatakan izin eksplorasi diterbitkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Juli 2026.

Persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) eksplorasi kemudian diperoleh pada Agustus 2026.

“Jadi Mamuju itu kita sudah mendapatkan IUP Eksplorasi dari Kementerian ESDM melalui Ditjen Minerba,” ujar La Ode dalam Minerba Convention and Exhibition (Convex) 2026 di Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Menurutnya, kegiatan eksplorasi tahap awal difokuskan pada dua blok dengan luas masing-masing 100 hektare atau total 200 hektare.

Perminas telah melakukan pengeboran pada 72 titik dari target 200 titik menggunakan metode in-fill drilling dengan jarak antartitik sekitar 50 meter.

Pengeboran tersebut bertujuan memperinci data awal Badan Geologi sekaligus memastikan potensi sumber daya mineral yang terkandung di kawasan tersebut.

Namun, hingga kini perusahaan belum mengumumkan besaran sumber daya maupun cadangan LTJ yang telah terverifikasi.

La Ode menyebut mineral di Mamuju memiliki karakteristik ion-adsorption clay, yakni endapan yang berpotensi mengandung unsur tanah jarang.

Hasil eksplorasi nantinya menjadi dasar penghitungan sumber daya serta kajian kelayakan pengembangan pertambangan.

Logam tanah jarang merupakan mineral strategis yang digunakan dalam berbagai teknologi modern, termasuk magnet permanen, kendaraan listrik, dan peralatan elektronik.

Secara keseluruhan, Perminas mendapat penugasan pengelolaan potensi mineral pada wilayah seluas 7.300 hektare yang terbagi dalam dua blok.

La Ode menegaskan perusahaan siap menerima penugasan tambahan apabila pemerintah membuka wilayah eksplorasi baru.

Meski demikian, kepastian nilai ekonomi proyek masih bergantung pada hasil pengeboran, pengujian mineral, serta evaluasi teknis dan lingkungan.