BMKG Tetapkan Sumbar Siaga Hujan Lebat, Aceh dan 21 Wilayah Lain Waspada
JAKARTA, INFONUSANTARA.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat terhadap potensi hujan sedang hingga sangat lebat di sejumlah wilayah Indonesia pada Senin (2/11/2026), meskipun fenomena El Niño sangat kuat masih memicu kekeringan di berbagai daerah.
Berdasarkan informasi prakiraan cuaca, Sumatera Barat masuk kategori siaga terhadap potensi hujan lebat hingga sangat lebat.
Sementara itu, Aceh dan sejumlah provinsi lainnya diperkirakan mengalami hujan dengan intensitas sedang.
Peringatan angin kencang juga berlaku untuk wilayah Banten dan Sumatera Barat.
BMKG menjelaskan, kondisi atmosfer saat ini dipengaruhi interaksi El Niño sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang cenderung mengurangi curah hujan di Indonesia.
Namun, keberadaan uap air, pertemuan angin, serta aktivitas gelombang atmosfer masih memungkinkan terbentuknya awan hujan dengan intensitas tinggi.
Fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, Rossby Ekuatorial, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG) turut memengaruhi pertumbuhan awan konvektif.
Selain itu, kemunculan Bibit Siklon Tropis 91B di Laut Andaman dan sirkulasi siklonik di Laut Natuna berpotensi memperkuat pembentukan awan hujan.
Dalam prakiraan dasarian pertama November 2026, BMKG memperkirakan sekitar 67,62 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori menengah, yakni 50–100 milimeter per sepuluh hari.
Adapun wilayah berpotensi hujan sedang meliputi Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali.
Potensi serupa juga mencakup sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku, serta Papua.
BMKG mengingatkan bahwa prakiraan curah hujan dalam sepuluh hari tidak menutup kemungkinan terjadinya hujan ekstrem dalam satu hari.
Masyarakat diminta mewaspadai banjir, tanah longsor, genangan, serta pohon tumbang akibat hujan deras dan angin kencang.
Informasi cuaca perlu dipantau secara berkala karena kondisi atmosfer dapat berubah sewaktu-waktu.
