InfoNusantara.id

Dari Daerah untuk Indonesia

IHSG Anjlok, Rupiah Tertekan, Pasar Indonesia Menanti Arah Kebijakan The Fed

HSG turun ke 5.266,13 pada 27 Oktober 2026, rupiah turut tertekan. Pasar mencermati The Fed, lelang SUN, dan perubahan komposisi IHSG.

Jakarta, InfoNusantara.ID – Pasar keuangan Indonesia mengalami tekanan pada perdagangan Selasa (27/10/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 1,99 persen atau 106,96 poin ke posisi 5.266,13, sementara rupiah turut melemah terhadap dolar Amerika Serikat.

Dalam bahan yang diperiksa, rupiah tercatat melemah 0,19 persen menjadi Rp18.145 per dolar AS. Bersamaan dengan itu, investor asing membukukan jual bersih saham Rp668,26 miliar. Angka tersebut menggambarkan tekanan pada perdagangan hari itu, bukan posisi pasar terkini.

IHSG sempat mencapai level tertinggi harian 5.418,14 sebelum turun hingga 5.182,37. Indeks kemudian memangkas sebagian penurunannya menjelang penutupan. Data historis perdagangan turut mencatat penutupan pada level 5.266,13.

Perhatian pelaku pasar berikutnya tertuju pada keputusan kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve. Kalender resmi mencantumkan rapat Federal Open Market Committee pada 27–28 Oktober 2026.

Pengumuman dijadwalkan pada Rabu, 28 Oktober, pukul 14.00 waktu Washington, disusul konferensi pers setengah jam kemudian. Waktu tersebut bertepatan dengan Kamis (29/10/2026) pukul 01.00 dan 01.30 WIB.

Dari dalam negeri, hasil lelang Surat Utang Negara juga menjadi perhatian. Pemerintah menyerap Rp20,65 triliun, lebih rendah daripada target Rp30 triliun. Ulasan pasar BNI mengaitkan kondisi itu dengan permintaan imbal hasil lebih tinggi dari investor.

Sementara itu, Bursa Efek Indonesia menyiapkan perubahan penghitungan IHSG. Saham berkategori konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) akan dikecualikan mulai 2 November 2026.

Perubahan komposisi indeks tersebut perlu dibedakan dari keputusan pencatatan saham. Pengecualian dari penghitungan IHSG tidak dengan sendirinya berarti saham bersangkutan dihapus dari bursa.

Secara analitis, keputusan The Fed, permintaan investor terhadap surat utang, dan perubahan komposisi indeks menjadi tiga perkembangan yang perlu dicermati. Namun, ketiganya tidak dapat langsung ditetapkan sebagai penyebab tunggal pelemahan pasar.

Penilaian arah pasar selanjutnya memerlukan data perdagangan terbaru serta isi keputusan The Fed setelah diumumkan, bukan hanya perkiraan sebelum rapat.