InfoNusantara.id

Dari Daerah untuk Indonesia

Karhutla Way Kambas Capai 7.000 Hektare, Chusnunia Desak Pemadaman dan Pemulihan

Chusnunia mendesak pemadaman dan pemulihan Way Kambas. Luas kumulatif karhutla hingga awal Oktober 2026 mencapai sekitar 7.000 hektare.
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia

Jakarta, InfoNusantara.ID – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia meminta pemerintah memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur.

Ia mengingatkan ancaman terhadap habitat satwa sekaligus sumber penghidupan masyarakat sekitar.

Sepanjang Januari hingga awal Oktober 2026, Balai TNWK mencatat 21 kejadian kebakaran dengan luas kumulatif sekitar 7.000 hektare.

Angka tersebut merupakan akumulasi kawasan terbakar, bukan luas kebakaran yang masih aktif.

Chusnunia menilai gangguan terhadap ekosistem berpotensi merembet ke pariwisata dan ekonomi warga.

Dalam keterangan yang diberitakan ANTARA pada Senin, 26 Oktober 2026, legislator tersebut meminta pemadaman disertai pencegahan titik api baru.

Ia juga menekankan perlunya informasi berkala mengenai kondisi kawasan, akses kunjungan, dan keselamatan wisatawan.

Ancaman kebakaran kembali muncul pada akhir Oktober. Humas Balai TNWK Riri Fitriandi menyampaikan bahwa kebakaran terjadi pada 24 Oktober di wilayah Resort Susukan Baru dan Resort Rawa Bunder.

Titik api lainnya kemudian terdeteksi di kawasan Rawa Harjo. Keterangan itu disampaikan kepada detikSumbagsel pada 27 Oktober 2026.

Chusnunia mengingatkan, gangguan aktivitas wisata dapat memengaruhi pendapatan pelaku usaha lokal.

Karena itu, koordinasi pemerintah daerah, pengelola taman nasional, pelaku pariwisata, dan masyarakat desa penyangga perlu diperkuat.

Namun, besaran penurunan kunjungan maupun kerugian usaha belum dijelaskan dalam sumber yang diperiksa.

Dampak ekonomi tersebut masih berupa risiko yang perlu diantisipasi, bukan kerugian terukur.

Menurut Chusnunia, penanganan juga harus berlanjut setelah api padam.

Pemerintah diminta memetakan kerusakan, memantau satwa, dan menyiapkan pemulihan habitat berdasarkan kebutuhan kawasan.

Kepala Balai TNWK MHD Zaidi sebelumnya menekankan pentingnya kerja bersama dalam mendeteksi serta merespons api sejak awal.

Dalam keterangan pada 2 Oktober, ia menyebut belum ditemukan kematian satwa di bekas lokasi kebakaran. Informasi tersebut belum menggambarkan kondisi setelah kebakaran terbaru.

Pembaruan luas terdampak, titik api aktif, kondisi satwa, dan akses wisata masih diperlukan agar penanganan serta informasi kepada masyarakat sesuai keadaan lapangan.