InfoNusantara.id

Dari Daerah untuk Indonesia

Netanyahu Terancam Tersingkir, Mantan PM Israel Dukung Eisenkot Rebut Kekuasaan

JAKARTA, INFONUSANTARA.ID – Upaya Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mempertahankan kekuasaan menghadapi tantangan baru. Mantan Perdana Menteri Naftali Bennett resmi mengarahkan dukungan politiknya kepada pemimpin Partai Yashar, Gadi Eisenkot, untuk mendapatkan mandat membentuk pemerintahan.

Keputusan tersebut diumumkan Partai Together pimpinan Bennett pada Minggu (1/11/2026), menyusul hasil pemilu Israel yang gagal memberikan mayoritas parlemen kepada koalisi Netanyahu.

Bennett menyatakan dukungannya kepada Eisenkot merupakan bentuk komitmen menghormati pilihan pemilih sebagaimana dijanjikan selama kampanye.

Menurut laporan Anadolu Agency, Bennett juga telah menyampaikan keputusan tersebut secara langsung kepada Eisenkot.

Dukungan terhadap Eisenkot semakin meluas. Partai Democrats pimpinan Yair Golan dan Yisrael Beiteinu yang dipimpin Avigdor Lieberman turut menyatakan akan merekomendasikannya kepada Presiden Isaac Herzog.

Berdasarkan hasil penghitungan akhir pemilu 27 Oktober 2026, Partai Likud pimpinan Netanyahu memperoleh 27 kursi dari total 120 kursi Knesset.

Partai Yashar meraih 21 kursi, Together mengantongi 12 kursi, sedangkan Democrats memperoleh delapan kursi.

Secara keseluruhan, blok pendukung Netanyahu menguasai 53 kursi. Kelompok oposisi memiliki 48 kursi, sementara dua partai Arab mengumpulkan 19 kursi.

Komposisi tersebut membuat tidak satu pun blok utama mencapai ambang mayoritas 61 kursi.

Jika seluruh partai oposisi dan partai Arab mendukung Eisenkot, jumlah rekomendasi yang diterimanya berpotensi mencapai 67 anggota parlemen.

Namun, dukungan untuk memperoleh mandat presiden belum otomatis menjamin terbentuknya pemerintahan. Perbedaan sikap mengenai kerja sama dengan partai Arab masih menjadi tantangan koalisi.

Presiden Herzog dijadwalkan memulai konsultasi dengan partai-partai terpilih pada Rabu (4/11/2026).

Hasil konsultasi akan menentukan siapa yang pertama kali mendapatkan kesempatan membentuk pemerintahan baru.

Sementara proses politik berlangsung, Netanyahu tetap memimpin pemerintahan hingga penggantinya terbentuk sesuai mekanisme ketatanegaraan Israel.