Banjir Bandang Hanyutkan 80 Persen Bangunan Dayah, Kapolres Nagan Raya Temui Ulama
NAGAN RAYA, INFONUSANTARA.ID – Kerusakan parah akibat banjir bandang yang melanda Pesantren Tgk. Chik Kali Alue di Desa Blang Puuk, Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, mendapat perhatian jajaran kepolisian.
Kapolres Nagan Raya, Muhamad Taufiq, mengunjungi dayah tersebut untuk bersilaturahmi dengan ulama dan masyarakat.
Sekitar 80 persen bangunan pesantren dilaporkan hanyut tersapu arus sungai saat bencana melanda kawasan tersebut.
Kondisi ini menimbulkan kebutuhan mendesak untuk memulihkan fasilitas pendidikan agar para santri kembali memiliki tempat belajar yang aman dan layak.
Kunjungan Muhamad Taufiq bersama sejumlah pejabat Polres Nagan Raya berlangsung bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di pesantren tersebut.
Dalam kesempatan itu, Muhamad Taufiq menyampaikan keprihatinan atas kerusakan bangunan dayah yang selama ini menjadi salah satu pusat pendidikan keagamaan bagi masyarakat setempat.
Menurutnya, kehadiran kepolisian tidak hanya berkaitan dengan tugas menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga membangun hubungan sosial serta menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat yang tertimpa musibah.
“Ini adalah wujud kepedulian Polri. Kami ingin selalu dekat dengan ulama dan masyarakat,” ujar Muhamad Taufiq.
Ia juga mengajak para ulama dan tokoh masyarakat memperkuat kerja sama dalam menjaga keamanan, ketertiban, serta keharmonisan di wilayah Nagan Raya.
Sementara itu, pimpinan pesantren, Abdul Rauf, menyampaikan apresiasi atas kunjungan jajaran Polres Nagan Raya ke lembaga pendidikan yang dipimpinnya.
“Kehadiran ini memang menjadi penantian dan harapan kami,” ungkap Abdul Rauf.
Ia berharap pemerintah dan para dermawan dapat membantu pemulihan bangunan pesantren yang rusak akibat banjir bandang.
Dukungan tersebut dinilai penting agar kegiatan pendidikan dapat berlangsung kembali dengan fasilitas yang memadai.
Kunjungan ini sekaligus menjadi momentum mempererat hubungan antara kepolisian, ulama, dan masyarakat, serta mengingatkan pentingnya perhatian berbagai pihak terhadap pemulihan sarana pendidikan keagamaan pascabencana.
