Sosok Kontroversial Pembela Hak Perempuan Asal Mesir Meninggal Dunia di Usia 89 Tahun

Nawal el-Saadawi/Ilustrasi. (Foto: Tangkap layar video kanal youtube Channel 4 News)

Jakarta – Menteri Kebudayaan Mesir, Inas Abdel-Dayem berduka atas kematian psikiater dan penulis terkenal, Nawal El-Saadawi.
“Perkataan dan tulisannya telah melahirkan gerakan intelektual yang hebat,” katanya, dikutip dari independent.co.uk.

Diberitakan, pejuang Hak Asasi Manusia (HAM) feminis Mesir itu meninggal di usia 89 tahun karena masalah kesehatan, Minggu (21/3/2021).

Bacaan Lainnya

Dia lahir pada tahun 1931 di sebuah desa di delta Nil, tepat di utara ibu kota negara, Kairo. Dia adalah satu dari sembilan bersaudara yang lahir dari ayah dan ibu pejabat pemerintahnya dari latar belakang kaya.

Setelah belajar kedokteran di Universitas Kairo, serta Universitas Columbia, New York, El Saadawi bekerja sebagai dokter sebelum berspesialisasi dalam psikiatri. Dia juga melanjutkan kuliah di universitas dan menulis buku dan surat kabar.

Dia kemudian menjadi direktur kesehatan masyarakat di Mesir tetapi diberhentikan dari pekerjaannya di Kementerian Kesehatan setelah menerbitkan bukunya, Women and Sex.

Buku kontroversial itu diterbitkan pada tahun 1972 dan membahas masalah-masalah seperti penindasan seksual terhadap perempuan. Buku itu juga berjuang untuk meningkatkan kesadaran dan aksi menentang mutilasi alat kelamin perempuan/Female Genital Mutilation (FGM), yang dialami El Saadawi pada usia enam tahun.

“FGM digunakan untuk menindas wanita. Praktik itu akhirnya dilarang di Mesir pada 2008, tetapi El Saadawi terus menyerukan prevalensinya di negara itu, bahkan ketika dilarang,” ucapnya berkampanye menentang FGM.

Dia juga mendirikan majalahnya sendiri bernama Health, yang ditutup pada tahun 1973.

Selama tindakan keras politik yang luas oleh Presiden Anwar Sadat, pada tahun 1981, dia dipenjara selama dua bulan. Saat dipenjara, El Saadawi menggunakan waktu itu untuk menulis buku lain bernama Memoirs from the Women’s Prison, menggunakan gulungan tisu toilet dan pensil alis untuk merekam pengalamannya.

Setelah pembunuhan Presiden Sadat, dia dibebaskan. Tetapi, pekerjaannya tetap disensor dan bukunya dilarang di Mesir.

Setelah itu, dia menerima ancaman pembunuhan dari fundamentalis agama dan akhirnya pindah ke AS tempat dia melanjutkan kampanyenya. Di sini dia berjuang melawan agama, kolonialisme, dan kemunafikan Barat.

Dia juga berkampanye menentang cadar, tetapi juga mengecam riasan wajah dan pakaian terbuka. Bahkan, tindakannya sampai membuat kesal sesama feminis.

Ketika presenter BBC Zeinab Badawi menyarankan dalam sebuah wawancara pada tahun 2018 agar dia memperhalus kritiknya, El Saadawi menolak.

“Tidak. Saya harus lebih blak-blakan, saya harus lebih agresif, karena dunia menjadi lebih agresif, dan kami membutuhkan orang-orang untuk berbicara keras melawan ketidakadilan. Saya berbicara dengan keras karena saya marah,” ucapnya.

Setelah menghadapi banyak ancaman pembunuhan, ia mengaku tindakannya tidak ditujukan untuk semua orang.

“Saya menulis dalam bahasa Arab. Semua buku saya dalam bahasa Arab, dan kemudian diterjemahkan. Peran saya adalah mengubah orang-orang saya,” katanya.

Meskipun kontroversial, El Saadawi mendapatkan banyak pengakuan di seluruh dunia dan buku-bukunya telah diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa yang berbeda.

Sekembalinya ke Mesir pada tahun 1996, dia menimbulkan keributan baru. Dia mencalonkan diri sebagai calon presiden dalam pemilihan tahun 2004 dan hadir di Tahrir Square Kairo untuk pemberontakan tahun 2011 melawan Presiden Hosni Mubarak.

Dia menghabiskan tahun-tahun terakhirnya di Kairo, dekat dengan anak-anaknya. Dikabarkan, dirinya menikah tiga kali dan meninggalkan seorang putri dan seorang putra.

Untuk informasi, El Saadawi adalah pendiri dan kepala Asosiasi Solidaritas Wanita Arab. Ia juga salah satu pendiri Asosiasi Arab untuk Hak Asasi Manusia.

Pada tahun 2005, dia menerima Penghargaan Internasional Inana di Belgia, setahun setelah dia menerima hadiah Utara-Selatan dari Dewan Eropa. Pada tahun 2020, ia masuk dalam daftar 100 Wanita Tahun Ini versi Majalah Time.

Saat surat kabar di seluruh dunia melaporkan kematiannya, beberapa bahkan membandingkannya dengan penulis Prancis Simone de Beauvoir.

“Saya akan mati, dan Anda akan mati. Yang penting adalah bagaimana hidup sampai kamu mati,” kata halaman Facebook Ms El Saadawi.

(Afg/IJS)

BACA JUGA :  Dirut Pupuk Indonesia Tegas Tak Akan Lindungi Karyawan Jika Terlibat Penyelundupan Pupuk Subsidi
Editor: Al-Afgani Hidayat

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *