Gandeng FIB Unair, Wakil Ketua DPRD Gagas Ensiklopedia Budaya Surabaya

Wakil Ketua DPRD Surabaya, A. Hermas Thony/Ilustrasi. (Foto: Tangkap layar video kanal youtube Memorandum Online)

Jakarta – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya A. Hermas Thony menggagas ensiklopedia budaya Surabaya. Selain ensiklopedia Surabaya, Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang pemajuan budaya Surabaya dan buku toponimi tentang kampung-kampung di Kota Surabaya juga diinisasi.
Hal itu ia sampaikan saat bertemu dengan Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unair Prof. Dr. Purnawan Basundoro yang didampingi Suko Widodo dan anggota Komisi D DPRD Surabaya Dyah Katarina di ruang kerjanya, Rabu (7/4/2021)

Untuk mewujudkan rencana besar ini, ia menggandeng Fakultas Ilmu Budaya Unair Surabaya. Tujuannya untuk menguatkan kajian dan referensi yang jelas. Karena kekuatan referensi dan analisis ada di perguruan tinggi.

Bacaan Lainnya

“Kalau bidang pembangunan kiblatnya kan ITS, kalau bidang budaya ada kampus Unair. Kita coba menggali ini dan kerjasama yang bagus,” ujarnya, dikutip dari beritajatim.com.

Politisi Partai Gerindra ini menjelaskan, kerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Unair ini sebagai langkah awal untuk merangkul akademisi. Sehingga, harapannya komunikasi lembaga dewan dengan kampus lebih intens.

“Ini tradisi yang akan bangun, karena dewan agak alergi dengan kampus, mungkin karena temparnya orang kritis,” sambungnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unair Prof. Dr. Purnawan Basundoro menyambut baik kerjasama tersebut. Pihaknya akan menggerakkan para dosen yang memang memiliki kualifikasi di bidangnya masing-masing.

“Kerjasama ini inisiatif untuk memajukan kebudayaan kota Surabaya. Karena sejarah dan budaya Surabaya sangat banyak, dimana itu harus diselamatkan,” jelasnya.

Karena itu, pengembangan budaya di Surabaya harus memiliki landasan hukum. Undang-undang nasional memang sudah ada, tetapi dengan dibuatnya perda maka pengembangan secara khusus budaya Surabaya butuh perda.

Prof Purnawan menilai Surabaya sebagai kota bersejarah, sehingga aspek kesejarahan ini perlu diselamatkan. Tujuannya, anak-anak muda Surabaya tahu betul tentang sejarah budaya kota tempat tinggalnya.

“Aspek kesejarahan tidak dirawat, maka akan hilang, Surabaya kota pahlawan, tapi kalau tidak diajarkan anak muda tidak akan tahu,” terangnya.

Unsur kepahlawanan Surabaya tidak hanya mengacu kepada peristiwa 10 Nopember. Seperti perlawanan masyarakat Surabaya terhadap Mataram yang menjajah Surabaya pada awal abad 17.

“Selain perda, Kota surabaya butuh ensiklopedi kota Surabaya yang selama ini belum ada. Ini akan menjadi referensi yang mengetahui semuanya, baik budaya, sosial tokoh, politik dan lainnya,” katanya.

Semua hal yang berkaitan dengan Surabaya, tegasnya, merupakan proyek besar. Dikatakan juga buku tentang toponimi direncanakan akan dibuat.

(Afg/IJS)

BACA JUGA :  Bak di Negeri Dongeng, Ini 5 Tempat Wisata yang Bikin Terpesona
Editor: Al-Afgani Hidayat

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *