Dulu Bela Militer Aniaya Muslim Rohingya, Kubu Suu Kyi Sekarang Beda

Kedatangan kaum Muslim Rohingya di tanah Aceh/Ilustrasi. (Foto: Tangkap layar video kanal youtube Aksi Cepat Tanggap)

Jakarta – Politisi sekutu utama Aung San Suu Kyi, Sasa mengatakan, ratusan ribu Muslim Rohingya yang mengungsi di Bangladesh harus dipulangkan. Dia minta mereka diberi hak-hak yang sama dengan masyarakat Myanmar, termasuk hak kewarganegaraan.

Ratusan ribu warga Muslim Rohingya itu sampai saat ini masih tinggal di kamp-kamp pengungsi di Bangladesh. Mereka eksodus ketika dianiaya oleh pasukan Myanmar tiga tahun lalu.

Bacaan Lainnya

Mereka dianiaya ketika Suu Kyi berkuasa. Hal itulah yang membuat komunitas internasional mengecam Suu Kyi karena menutup mata atas penderitaan komunitas Rohingya.

Sasa menyatakan, sudah waktunya bagi 55 juta orang negara itu untuk mengesampingkan perbedaan mereka dan menghadapi militer yang merebut kekuasaan sejak 1 Februari lalu.

“Saya telah menunggu waktu untuk memanggil saudara-saudara Rohingya kami sebagai keluarga saya,” katanya dalam wawancara dengan Haslinda Amin dari Bloomberg Television, seperti dilansir internasional.sindo.news, Senin (29/3/2021).

Ia menegaskan, musuh bersama saat ini adalah para jenderal militer.

“Kami adalah satu keluarga. Sekarang kami hanya memiliki satu musuh bersama, yaitu para jenderal militer ini.”

Komentar itu muncul menjelang akhir pekan paling mematikan sejak kudeta. Pada hari Sabtu lalu saja, sedikitnya 114 pengunjuk rasa dan warga sipil tewas dalam bentrokan dengan pasukan junta Myanmar.

Selusin menteri pertahanan dari seluruh dunia bersama-sama mengutuk penggunaan kekuatan mematikan terhadap orang-orang tak bersenjata, yang sejauh ini telah menewaskan 459 orang.

Untuk diketahui, di bawah pemerintahan sebelumnya (yang dipimpin oleh Suu Kyi, dan sekarang ditahan), Myanmar membela militer dari tuduhan melakukan genosida terhadap Rohingya mulai tahun 2017, memaksa lebih dari 700.000 orang melarikan diri melintasi perbatasan ke Bangladesh.

Perlakuan militer terhadap Rohingya mendorong Amerika Serikat (AS) memberikan sanksi kepada para pemimpin militer, merusak reputasi internasional Suu Kyi, dan memperburuk iklim investasi.

Pihak berwenang terus menerus gagal menjamin perlindungan untuk pemulangan mereka, membuat mereka hidup dalam kondisi jorok di kamp-kamp pengungsi. Mereka ditolak hak-hak dasarnya termasuk kewarganegaraan, sementara pihak berwenang—termasuk yang terpilih sebelumnya—bahkan menolak untuk mengakui mereka sebagai Rohingya dan menyebut mereka “Bengali”, sebutan yang dianggap sebagai penghinaan terhadap komunitas itu.

Sebagai bagian dari Komite Perwakilan Pyidaungsu Hluttaw (CRPH), Sasa menyebut orang-orang harus diberi kesempatan untuk melindungi diri mereka sendiri dari penindasan kekerasan dari militer.

Sasa berbicara setelah kebakaran di Bangladesh pada 22 Maret merobek kamp pengungsi terbesar di dunia. Menurut PBB, kebakaran itu membuat lebih dari 45.000 Muslim Rohingya mengungsi.

Menjelaskan pembelaannya terhadap Rohingya, Sasa, seorang dokter terlatih dari negara bagian Chin barat Myanmar, mengatakan situasinya sekarang telah berubah setelah Suu Kyi menghadapi keadaan yang sangat sulit menjalankan pemerintahan bersama dengan militer.

(Afg/IJS)

BACA JUGA :  Hari Perempuan Internasional, Jokowi: Perempuan Harus Menantang
Editor: Al-Afgani Hidayat

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *