Bagaimana Hukum Menganiaya Kucing dalam Islam? Ini Penjelasannya

Ilustrasi kucing. (Foto: kibrispdr.org)

Jakarta – Bagaimana hukum menganiaya kucing dalam Islam, bahkan sampai menyebabkannya mati? Apakah orang yang menganiaya atau membunuh kucing bisa dikenakan sanksi?

Wakil Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LDPBNU), KH Muhammad Nur Hayid menjelaskan, kucing merupakan hewan yang sangat dimuliakan Allah dan Rasulullah saw. Diriwayatkan dalam sebuah hadis, Rasulullah mengatakan, kucing adalah hewan yang selalu berkeliaran di sekitar manusia, dan kucing tidak najis.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan pendapat mu’tamad (yang kuat), ulama sepakat membunuh kucing hukumnya haram. Akan tetapi, ada pendapat dari beberapa ulama, termasuk al-Qadli Husain seperti disebutkan Ibnu Hajar al-Haitami, yang berpendapat kucing boleh dibunuh jika membahayakan manusia. Manusia pun bisa mengambil tindakan terukur terhadap kucing bila sudah sangat membahayakan.

Dai yang akrab disapa Gus Hayid itu mencontohkan, ketika seekor kucing hendak melukai seorang anak balita. Untuk menyelamatkan anak tersebut, orang tuanya boleh melemparkan benda dari jarak jauh ke arah kucing dengan tujuan mengusir atau menjauhkan kucing tersebut. Namun, ternyata lemparan benda itu membuat kucing tak sadarkan diri bahkan hingga mati.

Menurutnya, situasi tersebut tidak termasuk menganiaya kucing atau bertujuan membunuh kucing, melainkan untuk menyelamatkan atau menjaga jiwa manusia.

“Membunuh dalam konteks yang tidak sengaja seperti itu tidak masalah karena ada ada dasar alasan yang kuat (ilat). Tetapi, kalau membunuh (kucing) seperti yang dilakukan orang yang di sekolahan itu, yang karena mengganggu sekolahnya terus dipukuli sampai mati, itu haram. Hukumnya dalam Islam haram, termasuk orang-orang yang tidak menghormati ketetapan dan ciptaan Allah,” katanya, dikutip dari REPUBLIKA.co.id.

Dengan demikian, orang yang menganiaya kucing sampai mati, ia berdosa. Gus Hayid menegaskan, dalam hukum positif di Indonesia, pelaku penganiayaan dan pembunuhan terhadap hewan dapat dijerat Pasal 302 KUHP.

Ia mengajak umat Islam memetik hikmah dari Abdurrahman bin Shakhr al-Azdi, yakni seorang sahabat yang sangat dekat dengan rasul. Dia begitu memuliakan kucing hingga lebih dikenal dengan sebutan Abu Hurairah. Rasulullah pun memiliki peliharaan seekor kucing yang diberi nama Muezza. Rasulullah begitu sangat menyayangi dan memuliakan kucingnya. Islam mengajarkan untuk berlaku baik terhadap semua ciptaan Allah, termasuk hewan.

Dalam sebuah riwayat, dijelaskan tentang seorang wanita yang mendapatkan azab karena mengurung kucing peliharaannya tanpa dikasih makan dan minum hingga mati. Hal itu menunjukkan, ajaran Islam memuliakan setiap makhluk.

Oleh karena itu, bila seseorang tidak menghendaki keberadaan kucing di sekitarnya, ia cukup mengusirnya dengan cara yang wajar. Ia juga bisa menangkap dan memindahkannya ke lingkungan lain yang dapat menerima keberadaan kucing, atau menangkap dan memberikannya kepada pencinta binatang guna dipelihara dan dirawat.

Ilustrasi kucing

Senada dengan hal itu, Kepala Lembaga Peradaban Luhur (LPL) Ustaz Rakhmad Zailani Kiki mengatakan, Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra menjelaskan, memuliakan kucing hukumnya sunah. Namun, tegasnya, hukum membunuh kucing adalah haram walaupun tingkah laku kucing sudah cukup brutal.

Pendakwah yang akrab disapa Ustaz Kiki itu menjelaskan, Imam Ibnu Hajar al-Haitami di dalam kitab tersebut menyatakan membunuh kucing boleh tapi tidak mutlak. Ia mencontohkan, apabila kucing mengambil satu barang (yang sangat berharga), ia lari dan patut diduga kucing tersebut tidak akan ditemukan lagi, maka boleh dilempar, misalnya dengan anak panah, supaya bisa menghalangi dia dari pelarian walaupun mengakibatkan kematian. Meski begitu, itu hanya boleh dilakukan jika kucing itu tidak sedang bunting. Kalau sedang bunting, tidak boleh dilempar secara mutlak.

“Hukumnya adalah berdosa membunuh kucing yang jinak dan tidak brutal, maka pelakunya dapat diberikan sanksi hukum yang bentuk hukumannya ditentukan oleh penguasa,” pungkasnya.

Seperti diketahui, penganiayaan terhadap kucing yang dilakukan seorang petugas sekolah di Serpong BSD, Tangerang Selatan, membuat geram masyarakat, termasuk para pecinta binatang.
Pelaku memukul dan menginjak induk kucing hingga lemas dan membuang anak-anak kucing ke gorong-gorong. Pelaku beralasan, perbuatan itu dilakukan karena kucing berkeliaran di sekolah dan membuang kotoran.

(Afg/IJS)

BACA JUGA :  Usai Divaksin Tahap II, Raffi Ahmad Janji Bakal Taat Prokes
Editor: Al-Afgani Hidayat

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *